Kekuatan keyakinan….

August 27, 2008

Sewaktu saya kecil,setiap kali mengantarkan ayah saya ke Bandara untuk berangkat bertugas, saya seringkali membayangkan betapa senangnya saya jika mendapatkan kesempatan seperti ayah saya, menjelajahi nusantara dan bahkan dunia…

Inilah mimpi saya yang mengantarkan saya ke tempat saya berada saat ini, Groningen…

Harapan dan mimpi saya terus saya pelihara bahkan sampai saya kuliah. Saat saya kuliah dan bekerja pada kantor internasional di universitas saya pun saya seringkali berkata pada diri saya sendiri” Someday i will be there..i’ll be in the Netherlands…”

Saya terus memelihara dan memupuk keyakinan yang saya miliki saat itu, saya akan ada di Belanda suatu saat nanti. Waktu itu sering pula berbagai pertanyaan muncul di kepala saya ” bagaimana saya bisa sampai ke sana? Kuliah di Eropa adalah hal yang sangat berat dan rasanya dengan kondisi finansial keluarga saya, saya tak akan mungkin kuliah di sana dengan uang saya pribadi…”

Namun saya terus memelihara keyakinan saya…

Di tingkat 2, saya mulai mengumpulkan berbagai informasi tentang bagaimana saya bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar ke luar negeri, mencari universitas yang menarik bagi saya untuk menuntut ilmu di tempat tersebut..

Dan suatu ketika ketika saya tengah membaca leaflet program master penerjemahan di Universiteit Maastricht saya berujar pada diri saya sendiri “Saya akan sampai ke tempat ini…..”

Namun saya tak pernah membiarkan keyakinan saya ini menjadi obsesi apalagi ambisi saya,karena sejujurnya saya sama sekali bukan orang yang ambisius. Saya adalah seorang penikmat hidup yang merasa bahagia ketika saya bisa melakukan apapun yang bisa membuat saya tenang dan bahagia.

Sampai suatu ketika perjalanan waktu mengantarkan saya kepada keyakinan dan mimpi saya di masa lalu.

Ketika saya tengah menjalani pendidikan sebagai dosen muda di program studi saya, suatu ketika atasan saya memanggil saya dan berkata pada saya ” Kamu akan berangkat ke Maastricht tahun depan”

Betapa saya hampir tidak mempercayai ucapan beliau “Maastricht, sebuah kota cantik di selatan Belanda..Alhamdulillah Rabbi…akhirnya Engkau menyampaikan ku kepadanya”

Dan akhirnya pun , untuk kali pertama dalam hidup saya, saya pergi meninggalkan keluarga saya di Indonesia,menempuh perjalanan beribu-ribu mil dari tanah air menujuh sebuah tempat baru yang telah menjadi bagian dari masa lalu saya.

Sebelum berangkat ibu saya pun berkata ” Maastricht..di sanalah tinggal seorang suster yang telah membantu mama melahirkanmu, Nak. Dan ternyata apa yang terjadi di masa lalu mengantarkanmu pada tempat yang secara tidak langsung memiliki keterkaitan dengan keberadaanmu…”

Namun sayang sekali, saya tidak berhasil melacak keberadaan suster tersebut selama saya di Maastricht. Saat itu ingin sekali saya menjumpainya dan mengatakan ” Terima kasih karena bantuan anda, ibu saya bisa melahirkan saya…”

Dan setelah tugas saya selesai saya pun kembali ke tanah air. Orang tua saya yang semakin menua membuat saya ketika itu tak ingin jauh dari mereka, membuat saya ingin selalu dekat dengan mereka. Saya coba perlahan-lahan mengubur keinginan saya untuk sekolah di Belanda karena saya sadar akan sulit bagi saya meninggalkan ayah bunda saya di tanah air meski nyala keyakinan saya tetap bersinar di dalam hati saya.

Namun sekali lagi tangan Allah menyampaikan saya pada keyakinan saya sendiri. Awalnya berat bagi saya untuk sekali lagi meninggalkan keluarga saya, namun rupanya tiada yang bisa melawan kehendak Allah, namun rupanya ridho orang tua saya memudahkan jalan saya saat ini.

Ayah saya pun berkata ” Jangan biarkan kami menghalangi jalanmu nak…Kami ingin kamu menjadi manusia yang jauh lebih baik dari kami, kami ingin kam meilhat wajah dunia lain, kami ingin kelak kamu menjadi perempuan yang lebih kuat lagi karena pengalaman hidup…karena suatu saat kamu akan menjadi ibu, dan kami ingin kamu menjadi ibu yang lebih kuat sehingga kamu tau bagaimana cara membesarkan dan mendidikanak-anakmu dengan cara yang lebih baik dari kami..pergilah nak..”

Dan akhirnya sayapun belajar untu tetap pada janji saya … untuk bisa ikhlas menerima apapun ketetapan Allah yang terbaik bagi saya…dan ketika Dia mengatakan ” ini saatmu untuk pergi”, maka sayapun belajar untuk ikhlas meninggalkan orang tua saya, dengan ikhlas menjalani amanah yang saya terima..

Dan pagi ini saya kembali merenung..

Bahwa Allah menyampaikan saya ke tempat ini..bahwa dengan keyakinan yang terus saya pupuk saya sampai di sini….

Dan tiada lain yang bisa saya lakukan selain terus belajar bersyukur atas nikmat ini dan terus menjaga amanah yang dipercayakan kepada saya kali ini…

Dan biarkan keyakinan menyampaikanmu pada apa yang kamu yakini….

Groningen, 27 Agustus 2008

05.50

Entry Filed under: Zonder categorie. .

3 Comments Add your own

  • 1. bolakristalduniakhayal  |  August 29, 2008 at 1:35 am

    tante lagi kangen rumah ya??
    hehehe… udah mau puasa sih… wajar kok tante…

    duhuhuhu… saya jadi terharu baca tulisan tante…

    btw, ini saya, tante… preman gunung gyeong-korea… ponakan tante itu loh… bohohoho…
    lagi minggat nih Ka, bolakristal ini second home gw… bukan, bukan karena gw dikejar-kejar debt collector… wekekekek… tapi karena menenangkan diri sejenak dari juragan gw yg tercinta ituuhhh…

    eniwei tulisannya bagus tante…
    emang kita harus punya keyakinan dan tetep optimis yah… insyaAllah persangkaan Allah kan mengikuti persangkaan hamba-Nya ya… ^^

    someday gw juga akan melanglang buana… ke blande, jerman, jepang, amrik, russia… dan semoga bersama orang-orang tercinta; yang gw cinta dan mencintai gw…

    amin^^

  • 2. wikanpribadi  |  September 14, 2008 at 4:29 am

    -= if there is a will there is a way =-
    -= the winner never quit, dna who quit never win=-

    Regards,
    Wikan Pribadi
    http://wikanpribadi.wordpress.com

  • 3. fedri  |  September 14, 2008 at 5:05 am

    Cerita ini gue banget…haiiyyyaaa sama banget…… Dulu ayahku pergi ke Kuleuven Belgia selama setaun, trus dia ke Rotterdam dan Hanover. yang aku inget aku waktu umur 3 taun ngeliat ayahku pergi dan 1-2thn kemudian ngejemput ayahku. hmmm… I was wondering when I would go abroad like him….Besar harapan orang tuaku untuk aku pergi sekolah ke luar “Itu doa mereka waktu aku kecil”. Ayahku hanya PNS dengan gaji kecil tapi bisa ke luar negri. Now, Alloh has printed it to me. Aku dengan gaji kecil ga pernah berpikir sekolah Master ke luar, dengan keyakinan pada Alloh diiringi Tahajud Ibuku yang luar biasa tiap hari (aku sendiri jarang ke arah ga pernah kalo tahajud :D … anak bandel hihi..) aku berusaha, Alhamdulillah usaha ini selalu diiringi kemudahan di setiap kesulitan yang kuhadapi. Aku bisa aja milih pekerjaan yang gaji nya 10x lipat, tapi kata hati ga bisa kutolak untuk menerima pekerjaan yang bisa membuat aku jadi dosen, Ya Alloh tuntunlah aku ke jalan apapun yang terbaik…. Terima kasih Yaa Latiif… Yaa Hafidz… Yaa Alloh Engkau telah memberikan jalan terbaik pada hambamu yang amalnya masih jauuuuuuuuuh dari baik.

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts