Entah kenapa..malam ini aku merindukannya kembali.
Merindukan dia yang telah ku tinggalkan hampir setahun lalu
Merindukan dia yang telah menggoreskan sebuah impresi mendalam
Merindukan dia yang telah memberikan beribu memorabilia yang tersimpan di dalam rongga kepalaku
Merindukan dia yang menjadi bagian dari dinamika hidupku
Karena dia,
Bagian dari mimpi dan hidup masa laluku dan bahkan kekinianku
Aku pernah hidup dan merasakan kehidupan,
kesunyian,
kesepian,
namun juga
cinta,
persahabatan,
Karena dia adalah Maastricht,
Tempat jiwa tertempa,
Tempat logika terasah,
Tempat senyum tertata indah,
Tempat semua pernah terjadi dan menjadi,
Tuhan,
Biarkan aku kembali
Pada cintaku,
Menyusuri kembali jalan-jalan sunyi itu,
Mendengar kembali bunyi lonceng di pagi hari,
Menemui kembali cintaku….
Donderdagavond 1 mei 2008, 22:29
May 1, 2008 at 4:38 pm
Gw masih inget banget kenangan kecil gw..
Hmm..
Tiap kali gw main sama wawan n anak” sebaya di dekat rumah, gw pasti selalu jadi ibu guru..
hmm..
Kalo gak karena inisiatif sendiri, pasti ditunjuk anak-anak
“Yang jadi ibu gurunya eka aja..aku anak muridnya”
Sambil menirukan gaya ibu guru di sekolah..eka kecil yang centil sampai-sampai memakai sepatu hak 5 centi mama.
Bergaya bak ibu guru yang tengah mengajar di sekolah..
“Ini ibu Budi, Ini Bapak Budi..ini apa anak-anak?”
Hahahahahahahahahahahahaha…
Dan ternyata mimpi kecil itu menjadi kenyataan..
Setelah perjalanan turbulensi waktu gw sempat membuat gw berganti-ganti mimpi, mau jadi pengacara karena terinspirasi filmnya Widyawati Amhalia SH dan juga sering liat oom gw yang juga pengacara…kayaknya si oom pinter banget ngomong, mau jadi dokter karena mau nolong orang (tapi gak mungkinlah yahh..masa bu dokter takut darah, gak kuat cium bau obat-obatan n parahnya alergi sama pak dokter..hehehehehehe), mau jadi bankir karena kagum sama sosok Miranda Gultom…hahahahahahhahaha…
Ternyata takdir membawa gw pada mimpi masa kecil gw,
Ternyata Allah mendengar doa mama supaya anaknya ini bisa jadi guru
Jadi dosen atau guru itu enak Ka..mama aja nyesel kenapa yah dulu gak mau masuk sekolah guru..bayangin aja kamu bisa nularin ilmu ke orang lain, trus juga kamu masih bisa ngurus anak kalo berumah tangga kelak, nah yang terpenting kamu bisa terus mengembangkan diri tanpa harus lepas dari tanggung jawab dan kodrat sebagai seorang perempuan”
Aminnnn..Allah..kabulkan doa mamaku yang berikutnya dunk:-)
*request plus ngerayu mode on*
Dulu pas kuliah gw pernah membantah mama soal yang di atas
Gak mau ahh Ma,,mana mungkin sih eka jadi dosen,
Aduhhhh..
Kan mending jadi bankir..3 tahun di bank eka pasti udah bisa jadi manager tingkat menengah plus dah bisa dapet gelar master.
Hehehehe..
Ternyata Allah itu maha mendengar yah
Maha membolak-balikkan hati kita
Wallahuallambissawab..
Gw juga gak ngerti bagaimana cara Dia membalikkan hati gw, membukakan hati gw kalau sesungguhnya inilah jalan gw..
Dulu pas zaman kuliah dan di masa-masa awal magang jadi dosen muda gw mikir
Ih enak lowh jadi dosen, kerjanya fleksibel, ketemu orang-orang muda terus, kesempatan menuntut ilmu gede, trus lebih enak lagi bisa pulang cepet trus main deh sama Nayla ponakannya wawan tetangga gw ituwh..ngajar mah gampang, cuman baca buku aja trus bikin tugas deh buat anak”
Nahlooo…
Nah sekarang gw masuk ke fase” dimana dedikasi dan komitmen gw harus gw buktikan
Menjadi dosen ternyata bukan perkara mengajar dan transfer ilmu aja yah..
Kalau cari bahan kuliah, bikin tugas..itu bukan hal yang sulit dilakukan..
Yang sulit adalah bagaimana kita bisa mengemban amanah..
Mendidik mahasiswa gw supaya bisa survive kelak di masyarakat..
Gak hanya lulus dengan menjadi robot produk industri edukasi, tetapi bagaimana gw juga punya peran untuk membuat mereka menjadi intelektual muda yang berpikir dengan logika dan menggunakan hatinya untuk menimbang…dan ternyata itu sulit yah..
Dan ternyata memperlakukan mahasiswa dengan adil, memberikan mereka hak yang seharusnya..juga bukan perkara mudah…
Seringkali gw kehilangan kesabaran ketika gw menghadapi mahasiswa yang lamban,
Atau bagaimana ketika gw harus marah ketika mahasiswa gw tidak sedikit pun membaca bahan kuliah yang sudah gw siapkan sejak awal semester, atau bagaimana gw memperlakukan mereka secara adil termasuk menghargai mereka sebagai makhluk yang membutuhkan ilmu untuk tumbuh dan berkembang,
Ternyata gw masih jauh dari kategori guru yang baik, pembimbing yang tut wuri handayani..
Jika mahasiswa gw adalah pohon..
Mampukah gw menjadi pupuk dan air yang menjadikannya subur dan tumbuh berkembang.
Mampukah gw menjadi matahari yang membuat klorofil daun-daun bersinergi
Wallahualambissawab
April 22, 2008 at 10:15 am
Seminggu terakhir saya senang sekali mendangar lagu Sheryl Crow…entah kenapa, tapi yang jelas lagu ini memang cukup ramah di telinga saya
Strong Enough
(Sheryl Crow/Bill Bottrell/David Baerwald/Kevin Gilbert/David Ricketts/Brian MacLeod)
God, I feel like hell tonight
Tears of rage I cannot fight
I’d be the last to help you understand
Are you strong enough to be my man?
Nothing’s true and nothing’s right
So let me be alone tonight
Cause you can’t change the way I am
Are you strong enough to be my man?
Lie to me
I promise I’ll believe
Lie to me
But please don’t leave
I have a face I cannot show
I make the rules up as I go
It’s try and love me if you can
Are you strong enough to be my man?
When I’ve shown you that I just don’t care
When I’m throwing punches in the air
When I’m broken down and I can’t stand
Will you be strong enough to be my man?
Lie to me
I promise I’ll believe
Lie to me
But please don’t leave
April 22, 2008 at 10:12 am
Beberapa waktu lalu saya singgah di website salah seorang kawan lama. Di salah satu artikelnya kawan saya bercerita betapa cinta sebenarnya adalah sebuah pekerjaan berat yang hanya mampu diemban oleh orang-orang kuat. Tulisan kawan saya itu menggugah perasaan dan logika berpikir saya. Saya pun terus membaca artikel kawan saya itu sampai akhir. Lewat tulisannya itu kawan saya berpendapat bahwa ketika kita mencintai seseorang maka seharusnya cinta tidak hanya melibatkan emosi sebagai salah satu bagian dari eksisitensi cinta itu sendiri, tetapi bagaimanapun juga, seharusnya ketika dua orang saling mencintai maka mereka harus dapat mensinergikan cintanya tersebut menjadi sebuah kekuatan untuk mencintai sesuatu yang lebih besar yakni cinta kepada Illahi dan Rasulullah SAW, selain itu cinta pun selayaknya mampu mendewasakan akal dua orang yang saling mencintai, saling membiarkan keduanya berkembang ke arah yang lebih baik, saling menguatkan dan menyempurnakan bentuk keduanya, saling mengikhlaskan satu sama lain, dan cinta pun selayaknya menghimpun para pecintanya di dalam sebuah madrasah cinta: saling belajar dan memberi pelajaran, saling mengayomi dan mengembangkan. Hmmm…saya sempat tertegun dan berpikir bahwa benar cinta memang bukan pekerjaan yang mudah dilakukan.
Cinta bagi saya pribadi memang merupakan subjek yang selalu menarik untuk saya bagi, saya ceritakan, dan saya diskusikan dengan orang-orang di sekeliling saya. Sangat menarik ketika saya mengetahui bagaimana orang-orang di sekeliling saya menilai dan menimbang cinta. Bagaimana ketika seorang teman saya, katakanlah mas X menolak bercerita lebih jauh tentang cinta karena baginya cinta itu tak ada, yang ada hanya kesempatan untuk senantiasa berbagi dan berbuat baik pada sesama. Lalu bagaimana cinta mas pada orang tua, atau keluarga dan teman-teman? Mas X pun berkata itu cinta yang lain. Lalu saya pun berkata pada diri saya sendiri bukankah cinta adalah sebuah integritas? Sebagai seorang muslim saya percaya bahwa cinta adalah sebuah fitrah yang diberikan Illahi kepada setiap manusia yang kemudian terdefragmentasikan menjadi cinta kepada Illahi Rab yang porsinya terbesar, cinta pada Rasulullah dan para sahabatnya, cinta kepada orang tua dan keluarga dan tentunya yang tidak dapat dipungkiri adalah cinta dan kesukaan terhadap lawan jenis. Hanya saja seringkali para pencinta seringkali menjabarkan cinta yang terakhir saya sebutkan lebih kepada perasaan atau emosi yang meluap-luap sehingga seringkali mengabaikan komponen cinta lainnya yang seharusnya senantiasa dijaga keseimbangannya. Ketika misalnya kita mencintai pasangan hidup kita seringkali kita juga kehilangan komposisi diri kita, atas nama cinta kita seringkali meleburkan kepribadian kita untuk misalnya menyenangkan hati orang yang kita cintai. Yep..cinta memang selayaknya membuat para pecintanya bergerak ke arah yang lebih baik, namun tidak berarti membinasakan karakter pribadi yang telah terpupuk. Cinta pun selayaknya bisa membuat para pecintanya saling memberikan kesempatan untuk berkembang ke arah yang lebih baik, namun tak jarang karena merasa saling memiliki kita pun seringkali mengikat pasangan hidup kita sehingga menyulitkannya untuk berkembang menjadi bentuk yang lebih sempurna dan yang lebih membuat saya prihatin atas nama cinta pun seringkali kekerasan fisik maupun mental tak jarang kita lakukan.
Lalu saya masih ingat pendapat seorang sahabat saya mas Y katakanlah. Cinta itu kalau kita ibaratkan seperti lingkaran yang terbagi-bagi (saya lalu mengasosiasikan lingkaran itu dengan lingkaran yang sering saya lihat pada paparan ststistika). Kenapa lingkaran? karena itulah bentuk yang tak pernah berakhir..karena seperti itulah cinta. Proporsi terbesar adalah cinta untuk Allah, kemudian cinta pada Rasulullah dan para sahabatnya, lalu cinta pada keluarga, cinta pada sahabat dan lingkungan dan yang terakhir tentunya cinta pada pasangan hidup kita. Nah jika salah satu cinta, misalnya cinta pada pasangan, porsinya membesar maka konsekwensinya cinta pada komponen lain pun akan berkurang..Nah kewajiban kita adalah bagaimana menjaga kesemuanya tetap menjadi seimbang Ka, karena semua komponen itu adalah sebuah kesatuan. Paparan yang sangat rasional sekaligus bijaksanaJ
Lalu saya juga teringan mas Z, kawan lama saya..Cinta itu ternyata kata kerja Ka dan aku baru menyadarinya sekarang ketika aku mengalami sendiri pasangsurut dalam kehidupan cintaku. Kamu tau kan bagaimana ceritaku? Ketika cinta itu habis dan kebencian merasukiku manakala kekasihku mengabaikan aku, ternyata hal terbaik yang bisa akau lakukan adlah dengan memberikan cinta itu sendiri..hmmmm, rumusan yang cukup sulit saya mengerti, tapi toh cukup bijaksana.
Saya pun ingat teman karib saya ketika menuntut ilmu di Belanda. Sebagai sesama orang Asia, kami cukup bisa memahami satu sama lain. Mba A, katakanlah begitu, mengatakan: Cinta itu kompleks Ka. Terlalu sulit untuk kita pahami, tapi toh ketika kamu menjalaninya kamu pasti akan semakin bersyukur. Sebelumnya saya tak pernah bisa membayangkan bagaimana mungkin saya bisa menikah dengan suami saya sekarang. We’re totally different, berbeda kebangsaan dan juga tempat tinggal. Tapi toh nyatanya, setelah melewati masa yang sulit kami bisa menyatukan cinta kami. You’re a nice girl and just believe that some day a nice guy come and you certainly know that he love you, that God give him as a present for you to take care of you, and also.. he’ll pay attention for you. Yeah, sometimes we meet the wrong one before we meet the good one. Just believe me..i know you’ll find him…(Yes I believe I will, dearJ)
Teman saya yang lainnya, Mba B, misalnya…turbulensi waktu pasti suatu waktu akan membawamu pada seseorang yang tepat Ka…kepada seseorang yang memang menjadi setengah bagian darimu. Percayalah someday you’ll find him.
Dan minggu lalu seorang kawan saya juga bercerita bahwa laki-laki dan perempuan sebenarnya dulu adalah sebuah kesatuan bulat yang diibaratkan sebagai bola bumi yang kemudian karena tekanan tata surya akhirnya terbagi dua..nah melalui revolusi waktu, ke dua bentuk yang terpisah ini pun mencarai bentuknya yang lain. Nah ketika dia bisa menemukan separuh dirinya yang lain, maka mereka pun menjadi satu kesatuan utuh seperti semula…seperti itulah cinta menyatukan manusia.
Memang ternyata cinta bukan pekerjaan mudah…tapi saya yakin saya bisa
April 22, 2008 at 10:07 am
Wahai Kekasih, Dekap Aku dalam Cintamu
Mawlana Jalaluddin Rumi
Asap yang menari bersama cinta.
Wahai Kekasih, dekap aku seperti asap yang menari itu.
Panas yang membakar dalam api.
Wahai Kekasih, dekap aku seperti panas membakar api.
Lilin cintaku terbakar oleh rasa rindu.
Seperti lelehan lilin ia menangis.
Seperti sumbu lilin yang terbakar habis.
Wahai Kekasih, dekap aku seperti lilin yang meleleh karena sumbunya terbakar api.
Saat sekarang kita berjalan bersama menyusuri jalan cinta.
Tak dapat kita tidur lagi malam-malam.
Di rumah penginapan pemusik menabuh gendering dan drum.
Wahai Kekasih, dekap aku seperti pejalan dan pemusik itu.
Malam gelap, para pecinta tak terlelap.
Jangan ganggu mereka dengan keinginan untuk tidur sejenak.
Satu yang mereka inginkan , di sini bersama kita.
Wahai Kekasih, dekap aku seperti para pecinta luapkan cinta.
Penyatuan diri bagaikan sungai yang mengalir dengan sepenuh godaan menuju laut.
Malam nanti bulan akan mencium bintang-bintang.
Majnun menjelma Laila.
Wahai Kekasih, dekap aku seperti mereka.
Tuhan adalah segalanya.
Dia menganugrahi kebaikan bagi penyair itu.
Segala yang kusentuh dan kulihat berubah menjadi nyala cinta.
Wahai Kekasih, dekap aku dalam pernyataan cinta yang serupa.
Pada hari cintamu menyentuhku.
Aku menjadi gila hingga kawanan orang gila menjauhiku dan lari dariku.
Kata-kata dari sang pujangga tak kan pernah menawan.
Mantra yang kau sorotkan ke jiwaku lewat gerak alis mata.
dari: Azzikra. No 36 Tahun 3, 7 Nov- 7 Des 2007.
April 22, 2008 at 9:57 am
Sudah dua hari terakhir ini saya rajin sekali membuka-buka Buku Tahunan SMA saya dan juga beberapa kali memutar video reuni angkatan saya di SMA. Sampai-sampai mama saya pun terheran-heran “ Ya ampun Ka, ga bosen apa itu foto dari kmarin dibolak-balik terus”.
I really miss my friends. Meskipun sudah lebih dari 7 tahun saya meninggalkan bangku SMA (phufhhh…tijd vliegt kalau kata orang Londo:-P..tak terasa waktu berjalan secepat itu), tetapi kenangan selama 3 tahun di SMA tetap terbungkus rapi di dalam long term memory saya. “Masa SMA itu masa yang gak akan kamu lupakan seumur hidup Ka, sekalipun kamu kelak seusia mama, kamu pasti terus mengenang masa-masa SMA-mu kelak” ujar Mama sambil terus bercerita tentang teman-teman beliau di SMA. Saya setuju sekali Ma, it’s hard to forget all those time
…saya pasti terus akan mengenangnya sampai saya mati..hehehehehehehehehe…
Saya beruntung menikmati pendidikan di kota yang tak terlalu besar seperti Depok (yang tentu pada masa saya dulu belumlah secrowded sekarang ini). Masa TK, SD, SMP, SMA (bahkan kuliah) saya habiskan di kota ini. Dari sekian banyak kenangan masa-masa sekolah, jujur saja kenangan saat di SMA-lah yang paling dominan menyita ruang di kepala saya. I really love my friends and also my teachers. Banyak sekali hal yang terjadi saat saya SMA dulu dan saya sangat bahagia karena di masa itu boleh dikatakan meski saya bukan anak manis yang taat dan penurut, tetapi saya tetap memiliki prestasi yang baik di sekolah:-P.
Seorang Eka Amhalia di masa SMA adalah sosok anak perempuan yang tomboy, rebel bahkan juga sering menjadi provokator (hehehehehe), gahar, strickt to the point, rajin membolos di hari pertama catur wulan (legal kok dengan restu Mama saya membolos dengan alasan: “Hari pertama gak pernah belajar Ma, paling cuma bagi-bagi kelas dan bersih-bersih..Males mending di rumah tidur..hehehehhehe”). Jadilah di hari pertama sekolah saya selalu saja meminta tolong sahabat saya untuk mencarikan tempat duduk yang paling strategis (teman-teman saya justru selalu mengerjai saya dengen mengetek tempat duduk terdepan, pas sekali di depan meja guru, tetapi tetap saja saya menyayangi teman-teman saya) dan juga rajin cabut pelajaran agama, fisika, dan sejarah yang hanya membuat saya mengantuk.
3 tahun yang menyenangkan..and that’s why until now I always connected to them, no matter where we are, we still keep in contact. Teman-teman SMA saya adalah sahabat dan bahkan keluarga saya sampai hari ini. Beberapa diantaranya tetap dekat dengan saya sampai saat ini dan tidak hanya itu keluarga saya pun mengenal mereka dengan baik. Hmmm…berikut ini saya ringkas perjalanan hidup saya di SMA:-P
1.3
Masa-masa girang jadi anak SMA baru masih terasa saat saya duduk di kelas satu. Kenakalan-kenakalan tipikal anak SMP masih juga sering kami lakukan saat kelas satu. Masa-masa pertama kami di SMA diawali dengan MOS (Masa Orientasi Sekolah). Meski jauh dari tindakan kekerasan, tetap saja saya seringkali dibuat kesal karena harus melakukan ini itu oleh senior saya. Pada suatu hari saya pun tergap oleh ketua OSIS yang menurutnya parfum yang saya gunakan kurang wangi dan juga name tag saya tidak mengikuti standar warna yang sudah ditetapkan. Saya pun naik darah dan tentunya melawan. Akhirnya saya pun disisihkan dari teman-teman saya yang lain dan terjadilah pengadilan yang diketuai oleh ketua OSIS dan MPK. Saya tetap kekeuh karena merasa kesalahan yang mereka nilai adalah hal yang konyol menurut saya. Saya tak peduli meskipun orang yang berada di depan saya adalah kakak kelas yang berusia 2 tahun lebih tua dari saya. Toh secara fisik saya lebih tinggi dan besar dari sang ketua OSIS. Meskipun dia laki-laki…jeleknya kalau sampai ada pertarungan fisik saya pasti menang (hehehehehe:-P). Untunglah kemungkinan terburuk tidak terjadi karena ada ketua MPK yang memisahkan adu mulut kami (wahhh cinta dech sama kakak yang baik hati ini..tapi sayang saya lupa siapa namanya?hehehehehehe). Akhirnya kami yang terhukum pun mendapatkan hukuman (yang sangat dangdut menurut saya) untuk mencari peribahasa dengan berbagai tema. Dan yang membuat saya semakin gondok saat itu adalah saya harus mencari peribahasa dengan kata GAJAH. Semenjak itulah saya mem BeTe dan berujar ( “Kampret ini orang siapa suruh punya badan lebih kecil dari gw..itukan masalah loe bukan masalah gw”). Pendeknya setiap kali saya berpapasan dengan makhluk (yang banyak di-fans-I teman-teman saya) saya pasti pasang tampang gahar..hehehehehehehe dan saya sempat mengumpat “Sok ganteng sok pinter banget si ini makhluk satu..loe rasain ntar kalau gak lulus UMPTN!” dan saya sempat senang saat saya tahu kakak ini tak lulus UMPTN (tapi 2 tahun kemudian saya pun tak lulus UMPTN dan akhirnya menyadari Karma Exist yach ternyata dan ngga enak pula gak lulus UMPTN).
Kembali ke masa pertama saya di SMA. Mungkin karena badan saya yang terhitung besar di bandingkan anak-anak perempuan seusia saya (atau bahkan anak lelaki) saya pun terpilih menjadi seksi keamanan. Kelas saya memang aman, tetapi seringkali kena marah guru di kelas sebelah karena menjadi kelas yang paling ribut saat pelajaran kosong. Kami seringkali bermain Othello, bekel dan permainan karet di kelas (nah buat teman-teman cowok mereka seringkali bermain bola plastik di dalam kelas) dan saya cuek saja tak peduli meskipun harus kena marah guru:-P
Suatu waktu saya dan beberapa teman lainnya tergap sedang mengambil buah jambu di depan kelas saat jam istirahat. Karena buah jambunya ranum saya dan teman-teman iseng. Salah satu dari kami, cowok tentunya, memanjat pohon dan yang lainnya dengan bermodalkan taplak meja menadangi buah jambu yang di petik teman saya. Sialnya ternyata kami sudah diincar dan saat guru saya berteriak, kami yang berada di bawah pohon pun langsung berlarian menyelamatkan diri..Apes bagi teman saya yang memanjat pohon, karena dia tertangkap basah dan pada akhirnya harus kena ceramah..hehehehe..sorry yach bowww:-P
Selain itu saya dan Yasmine sahabat saya adalah ahli soal perizinan dan bolos membolos. Kalau kami sedang malas belajar, pastilah kami mencari akal untuk kabur dari kelas. Seringkali teman saya Yasmine berpura-pura sakit agar kami mendapat izin ke UKS atau bahkan izin pulang ke rumah (Yippieee).Kalau kami bosan belajar tetapi juga kehabisan akal untuk mencari alasan, akhirnya kami menghibur diri dengan memakan cemilan kecil di kelas saat guru kami menerangkan pelajaran di depan kelas. Pastinya Pak Guru mengetahui kenakalan kami dan terus menerus menyindir kami..tapi tetap saja kami cuek. Selain itu aktifitas saya lainnya saat istirahat adalah bertandang ke kelas sebelah dan membahas gosip-gosip termutakhir dengan sahabat saya Uke (kami sudah bersahabat sejak SD, meski awalnya dia dalah musuh saya saat SD..hehehehehehehe..). Oya, aktifitas ini tetap kami jaga dan pelihara sampai kami berdua duduk di kelas 3…hehehehehehe.
2.2
Kehidupan SMA mulai nyata saat saya duduk di kelas dua. Kebiasaan membolos di hari pertama sekolah tetap saya pelihara (bahkan sampai kelas 3). Saya sudah mulai insaf dari aktifitas madol dan membohongi guru-guru karena lebih dari satu bulan pertama saya jatuh sakit dang hanya masuk ke sekolah beberapa hari saja dalam seminggu. Setelahnya saya mulai berubah menjadi anak yang lebih baik dan manis..hehehehhe:-D Beruntung saya dikelilingi oleh teman-teman yang kreatif karena lebih dari setengah penghuni kelas saya adalah aktifis KIR, OSIS, MPK, Basket, Paskibra, Mading, de-el-el jadi saya pun tertular menjadi anak kreatif:-P Saya menyukai pelajaran ekonomi, sejarah dan sosiologi dan karenanya berniat masuk kelas IPS saat kelas 3 kelak. Namun rencana saya buyar karena saya benci sekali dengan akuntansi yang merupakan mimpi buruk saya (dalam satu tahun hanya 2 kali saya dapat nilai di atas 80..whuaa…nightmare kalau saya harus ketemu akuntansi lagi di kelas 3). Akhirnya dengan setengah hati di akhir catur wulan saya memilih masuk kelas IPA (Lebih baik saya ketemu fisika dan kimia daripada harus muntah-muntah dapat pelajaran akuntansi lagi..nehiii)
3 IPA 4
Fase terakhir dari kehidupan saya di SMA. Kenakalan-kenakalan saya mulai saya minimalisasi (secara semakin dekat dengan ujian, saya pun semakin berubah menjadi anak baik). Selain kebiasaan membolos di awal catur wulan atau izin sakit saat pelajaran sejarah, tak banyak kenakalan berarti yang saya lakukan. Hari-hari saya di kelas tiga lebih banyak diwarnai dengan kegiatan belajar mati-matian tiap hari. Bangun pagi jam 4 dini hari, mengerjakan buku-buku UMPTN samapi subuh, berangkat sekolah jam 6 pagi karena ada jam O di sekolah, pulang sekolah langsung ke tempat bimbingan belajar sampai jam 6 sore, pulang ke rumah beristirahat sebentar dan langsung mengejrjakan PR. Ughhh..no live ternyata kehidupan anak kelas 3 SMA..ga sempet lagi dech mampir-mampir sepulang sekolah apalagi nonton bioskop (bhuaa..mati gaya). Namun untungnya saya masi bisa menghibur diri dengan suplai suplai gossip dari Uke sahabat saya saat jam istirahat. DI kelas tiga saya mempunyai rekan duet maut, Udinnnn sang bendahara..Jadi kamilah duo yang paling ditakuti teman-teman sekelas karena rajin menagih-nagih uang kas dan SPP teman-teman kami..Pokoknya urusan duit kita gak ada komprominya dech…hehehehehehhehehe..
Saya mulai merasa kehilangan teman-teman saya ketika harus memasuki Perguruan Tinggi. Meskipun saya juga memiliki banyak teman saat kuliah, tetapi tetap saja saya merasakan banyak hal yang berbeda. Persahabatan saya saat SMA jauh lebih mengikat saya untuk tetap dekat dengan teman-teman saya. Karena mereka tidak hanya teman dan shabat namun juga sudara yang tak pernah segan membantu saya dalam kondisi apapun.
Guys..i realllllllyyyyyyyyy reallyyyyyy love you all.. Can’t hardly wait until we can meet each other. Hayooo kapan ketemuaaannnn lagi yaaaaa
March 21, 2008 at 6:19 am
Newer Posts